Kamis, 29 Desember 2011

Geologi : Asal Usul Danau Toba

Danau toba sesungguhnya berasal dari sebuah letusan gunung berapi raksasa (supervolcano) yang terjadi 73 ribu tahun lalu. Letusan Toba ini adalah yang ketiga, dua letusan sebelumnya sudah pernah terjadi dalam jangka waktu 1 juta tahun. Letusan Toba yang
menciptakan danau Toba sekarang diperkirakan memiliki indeks Ledakan Vulkanis 8 (Mega Kolosal) sedemikian hingga membentuk kompleks kawah berukuran 3 ribu km persegi. 
Volume erupsi diperkirakan antara 2 ribu hingga 3 ribu km kubik magma dan 800 km kubiknya terendapkan sebagai abu vulkanis. Ukuran ledakannya adalah dua kali letusan gunung Tambora tahun 1815. Letusan gunung Tambora saat itu saja sudah cukup menghasilkan “Tahun Tanpa Musim Panas” di belahan bumi utara.
Menurut Alan Robock, letusan Toba tidak memicu zaman es. Penelitiannya yang menganalisa emisi 6 miliar ton sulfur dioksida dalam simulasinya menunjukkan pendinginan global maksimum sekitar 15 °C, tiga tahun setelah letusan. Ini berarti garis pepohonan dan salju sekitar 3000 meter lebih rendah dari sekarang. Dalam beberapa dekade, iklim kembali pulih.

Walau ada banyak perbedaan pendapat dan metode, para ilmuan setuju kalau letusan super Toba mengakibatkan lapisan hujan abu yang sangat tebal dan masuknya gas-gas beracun ke atmofer, sehingga mempengaruhi iklim dunia masa itu. Beberapa menduga peristiwa ini memicu zaman es 1000 tahun yang terjadi kemudian.

Sumber : Robock, A.; Ammann, C.M.; Oman, L.; Shindell, D.; Levis, S.; Stenchikov, G. (2009). “Did the Toba Volcanic Eruption of ~74k BP Produce Widespread Glaciation?”. Journal of Geophysical Research114: D10107.

Geologi : Asal Usul Danau Toba

Danau toba sesungguhnya berasal dari sebuah letusan gunung berapi raksasa (supervolcano) yang terjadi 73 ribu tahun lalu. Letusan Toba ini adalah yang ketiga, dua letusan sebelumnya sudah pernah terjadi dalam jangka waktu 1 juta tahun. Letusan Toba yang
menciptakan danau Toba sekarang diperkirakan memiliki indeks Ledakan Vulkanis 8 (Mega Kolosal) sedemikian hingga membentuk kompleks kawah berukuran 3 ribu km persegi. 
Volume erupsi diperkirakan antara 2 ribu hingga 3 ribu km kubik magma dan 800 km kubiknya terendapkan sebagai abu vulkanis. Ukuran ledakannya adalah dua kali letusan gunung Tambora tahun 1815. Letusan gunung Tambora saat itu saja sudah cukup menghasilkan “Tahun Tanpa Musim Panas” di belahan bumi utara.
Menurut Alan Robock, letusan Toba tidak memicu zaman es. Penelitiannya yang menganalisa emisi 6 miliar ton sulfur dioksida dalam simulasinya menunjukkan pendinginan global maksimum sekitar 15 °C, tiga tahun setelah letusan. Ini berarti garis pepohonan dan salju sekitar 3000 meter lebih rendah dari sekarang. Dalam beberapa dekade, iklim kembali pulih.

Walau ada banyak perbedaan pendapat dan metode, para ilmuan setuju kalau letusan super Toba mengakibatkan lapisan hujan abu yang sangat tebal dan masuknya gas-gas beracun ke atmofer, sehingga mempengaruhi iklim dunia masa itu. Beberapa menduga peristiwa ini memicu zaman es 1000 tahun yang terjadi kemudian.

Sumber : Robock, A.; Ammann, C.M.; Oman, L.; Shindell, D.; Levis, S.; Stenchikov, G. (2009). “Did the Toba Volcanic Eruption of ~74k BP Produce Widespread Glaciation?”. Journal of Geophysical Research114: D10107.

Geologi : Asal Usul Danau Toba

Danau toba sesungguhnya berasal dari sebuah letusan gunung berapi raksasa (supervolcano) yang terjadi 73 ribu tahun lalu. Letusan Toba ini adalah yang ketiga, dua letusan sebelumnya sudah pernah terjadi dalam jangka waktu 1 juta tahun. Letusan Toba yang
menciptakan danau Toba sekarang diperkirakan memiliki indeks Ledakan Vulkanis 8 (Mega Kolosal) sedemikian hingga membentuk kompleks kawah berukuran 3 ribu km persegi. 
Volume erupsi diperkirakan antara 2 ribu hingga 3 ribu km kubik magma dan 800 km kubiknya terendapkan sebagai abu vulkanis. Ukuran ledakannya adalah dua kali letusan gunung Tambora tahun 1815. Letusan gunung Tambora saat itu saja sudah cukup menghasilkan “Tahun Tanpa Musim Panas” di belahan bumi utara.
Menurut Alan Robock, letusan Toba tidak memicu zaman es. Penelitiannya yang menganalisa emisi 6 miliar ton sulfur dioksida dalam simulasinya menunjukkan pendinginan global maksimum sekitar 15 °C, tiga tahun setelah letusan. Ini berarti garis pepohonan dan salju sekitar 3000 meter lebih rendah dari sekarang. Dalam beberapa dekade, iklim kembali pulih.

Walau ada banyak perbedaan pendapat dan metode, para ilmuan setuju kalau letusan super Toba mengakibatkan lapisan hujan abu yang sangat tebal dan masuknya gas-gas beracun ke atmofer, sehingga mempengaruhi iklim dunia masa itu. Beberapa menduga peristiwa ini memicu zaman es 1000 tahun yang terjadi kemudian.

Sumber : Robock, A.; Ammann, C.M.; Oman, L.; Shindell, D.; Levis, S.; Stenchikov, G. (2009). “Did the Toba Volcanic Eruption of ~74k BP Produce Widespread Glaciation?”. Journal of Geophysical Research114: D10107.

Mengenal Peta Topografi dan Peta Geologi

Sebagai seorang geograf, kehidupan kita tidak akan jauh dari yang namanya peta. Peta merupakan suatu alat yang sangat penting keberadaannya bagi seorang geograf, bahkan untuk semua orang. Jika tidak, maka akan seperti orang buta yang tidak punya tongkat dan tangan untuk meraba. Di dunia geografi, dikenal berbagai jenis peta. Namun peta yang sering digunakan adalah peta topografi dan peta geologi sebagai peta dasar untuk interpretasi bentuk lahan untuk berbagi kegiatan penelitian sumberdaya.
Gambar 1 : Peta Geologi Lembar Solo
Peta Topografi atau sekarang sering dikenal dengan Peta Rupa Bumi (RBI) ini memuat berbagai informasi di permukaan bumi. Berbagai instansi memerlukan peta tersebut, bahkan dikalangn militer peta topografi ini sangat penting dan harus dipahami secara benar oleh prajurit.
 Gambar 2 : Peta RBI lembar Paranggupito
Adapun informasi yang tersaji dalam peta RBI ini antara lain yaitu bentukan permukaan bumi, dan lokasi absolut suatu tempat secara tepat berdasarkan koordinat geografis. Bentukan di permukaan bumi direpresentasikan melaui kenampakan dan kerapatan garis kontur, sehingga dapat diketahui kondisi geomorfologi yang meliputi morfometri dan morfografi maupun bentuknya. Peta topografi ini sering digunakan oleh para ahli geomorfologi dalam kegiatan pemetaan bentuklahan.
           Selain peta topografi, peta geologi juga sangat penting bagi seorang geograf. Peta geologi ini memuat berbagi informasi antara lain : formasi geologi, stuktur geologi, umur geologi, penampang geologi dan sungai utama. Berbagai informasi geologi ini sangat diperlukan oleh berbagia instansi yang bekecimpung dalam ilmu kebumian. Perpaduan informasi dan data yang disadap dari peta topografi dan peta geologi ini sangat memudahkan seorang geograf ataupun para ilmuan kebumian dalam kerja lapangan

Mengenal Peta Topografi dan Peta Geologi

Sebagai seorang geograf, kehidupan kita tidak akan jauh dari yang namanya peta. Peta merupakan suatu alat yang sangat penting keberadaannya bagi seorang geograf, bahkan untuk semua orang. Jika tidak, maka akan seperti orang buta yang tidak punya tongkat dan tangan untuk meraba. Di dunia geografi, dikenal berbagai jenis peta. Namun peta yang sering digunakan adalah peta topografi dan peta geologi sebagai peta dasar untuk interpretasi bentuk lahan untuk berbagi kegiatan penelitian sumberdaya.
Gambar 1 : Peta Geologi Lembar Solo
Peta Topografi atau sekarang sering dikenal dengan Peta Rupa Bumi (RBI) ini memuat berbagai informasi di permukaan bumi. Berbagai instansi memerlukan peta tersebut, bahkan dikalangn militer peta topografi ini sangat penting dan harus dipahami secara benar oleh prajurit.
 Gambar 2 : Peta RBI lembar Paranggupito
Adapun informasi yang tersaji dalam peta RBI ini antara lain yaitu bentukan permukaan bumi, dan lokasi absolut suatu tempat secara tepat berdasarkan koordinat geografis. Bentukan di permukaan bumi direpresentasikan melaui kenampakan dan kerapatan garis kontur, sehingga dapat diketahui kondisi geomorfologi yang meliputi morfometri dan morfografi maupun bentuknya. Peta topografi ini sering digunakan oleh para ahli geomorfologi dalam kegiatan pemetaan bentuklahan.
           Selain peta topografi, peta geologi juga sangat penting bagi seorang geograf. Peta geologi ini memuat berbagi informasi antara lain : formasi geologi, stuktur geologi, umur geologi, penampang geologi dan sungai utama. Berbagai informasi geologi ini sangat diperlukan oleh berbagia instansi yang bekecimpung dalam ilmu kebumian. Perpaduan informasi dan data yang disadap dari peta topografi dan peta geologi ini sangat memudahkan seorang geograf ataupun para ilmuan kebumian dalam kerja lapangan

Mengenal Peta Topografi dan Peta Geologi

Sebagai seorang geograf, kehidupan kita tidak akan jauh dari yang namanya peta. Peta merupakan suatu alat yang sangat penting keberadaannya bagi seorang geograf, bahkan untuk semua orang. Jika tidak, maka akan seperti orang buta yang tidak punya tongkat dan tangan untuk meraba. Di dunia geografi, dikenal berbagai jenis peta. Namun peta yang sering digunakan adalah peta topografi dan peta geologi sebagai peta dasar untuk interpretasi bentuk lahan untuk berbagi kegiatan penelitian sumberdaya.
Gambar 1 : Peta Geologi Lembar Solo
Peta Topografi atau sekarang sering dikenal dengan Peta Rupa Bumi (RBI) ini memuat berbagai informasi di permukaan bumi. Berbagai instansi memerlukan peta tersebut, bahkan dikalangn militer peta topografi ini sangat penting dan harus dipahami secara benar oleh prajurit.
 Gambar 2 : Peta RBI lembar Paranggupito
Adapun informasi yang tersaji dalam peta RBI ini antara lain yaitu bentukan permukaan bumi, dan lokasi absolut suatu tempat secara tepat berdasarkan koordinat geografis. Bentukan di permukaan bumi direpresentasikan melaui kenampakan dan kerapatan garis kontur, sehingga dapat diketahui kondisi geomorfologi yang meliputi morfometri dan morfografi maupun bentuknya. Peta topografi ini sering digunakan oleh para ahli geomorfologi dalam kegiatan pemetaan bentuklahan.
           Selain peta topografi, peta geologi juga sangat penting bagi seorang geograf. Peta geologi ini memuat berbagi informasi antara lain : formasi geologi, stuktur geologi, umur geologi, penampang geologi dan sungai utama. Berbagai informasi geologi ini sangat diperlukan oleh berbagia instansi yang bekecimpung dalam ilmu kebumian. Perpaduan informasi dan data yang disadap dari peta topografi dan peta geologi ini sangat memudahkan seorang geograf ataupun para ilmuan kebumian dalam kerja lapangan

Semiologi

 
Secara etimologis, Semiologi (F. de Saussure) atau Semiotika (C.S. Pierce) berasal dari bahasa yunani yaitu "semeion" yang berarti tanda dan "seme" yang berarti penafsiran tanda. Maka dari itu, Semiologi adalah ilmu yang mempelajari sistem-sistem, aturan-aturan, konvensi-konvensi yang memungkinkan tanda-tanda itu mempunyai arti.
Klasifikasi Semiologi adalah sebagai berikut :
  1. Semiologi Analitik : yaitu semiologi yang menganalisis sistem tanda menjadi ide, objek dan makna. Ide dapat dikatakan sebagai lambang, maka dapat dinyatakan sebagai arti yang terdapat di dalam lambang tersebut.
  2. Semiologi Deskriptif : yaitu semiologi yang memperhatikan sistem tanda yang dapat dialami sejak dahulu hingga sekarang, seperti mendung meerupakan tanda hujan.
  3. Semiologi Faunal : yaitu semiologi yang khusus memperhatikan sistem tanda yang dihasilkan oleh binatang. Misal induk ayam yang berkotek menandakan baru saja bertelur.
  4. Semiologi Kultural : yaitu semiologi yang khusus menelaan sistem tanda ynag berlaku dalam kebudayaan masyarakat tertentu yang membedakannya dengan masyarakat lain.
  5. Semiologi Natural : yaitu semiologi yang khusus menelaan sistem tanda yang di hasilkan oleh alam. Contoh : air sungai yang keruh menandakan di daerah hulu telah turun hujan, erosi, atau longsor, yang memberi tanda bahwa manusia telah merusak lingkungan alam.
  6. Semiologi Naratif : yaitu semiologi yang menelaan sistem tanda  dalam narasi yang berwujud mitos, dongeng, atau cerita lisan yang mempunyai nilai kurtural tinggi (Kearifan lokal).
  7. Semiologi Normatif : yaitu semiologi yang khusus menelaah sistem tanda yang dibuat oleh manusia yang berwujud norma-norma. Misal, rambu-rambu lalu lintas.
  8. Semiologii Sosial : yaitu semiologi yang khusus menelaah sistem tanda yang di hasilkan oleh manusia  yang berwujud lambang yang terdapat di dalam bahasa.
Semiologi ini banyak diterapkan untuk mempelajari tanda-tanda bencana yang akan terjadi di lingkungan kita.
 

Semiologi Bencana

Dalam postingan saya sebelumnya, telah dibahas mengenai arti dari kata Semiologibeserta klasifikasinya. Semiologi khususnya semiologi natural dapat memberitahukan kita akan peristiwa peristiwa alam yang akan terjadi di lingkungan kita termasuk di dalamnya bencana. 
Adapun semiologi natural atau tanda tanda alam yang dapt kita lihat secara kasat mata ketika akan terjadi suatu peristiwa alam diantaranya :
- Tanda-Tanda akan datangnya hujan dan angin puting beliung.
  • Langit cerah tiba-tiba mendung
Siang hari yang cerah berubah mendung secara tiba-tiba.
  • Terlihat awan altocumulus di sore hari
Awan Altocumulus
- Tanda -tanda gempa bumi
  Bencana gempa bumi merupakan bencana yang sudah langganan melanda negeri ini. Karena itu, ada baiknya kita bisa membaca tanda tanda alam akan terjadinya gempa bumi walaupun tanda tanda ini belum bisa memprediksikan kapan dan dimana tepatnya akan terjadi gempa. Dibwah ini adalah tanda-tanda alam akan terjadinya gempa bumi yang berhasil direkam dari berbagaia sumber, diantaranya :
  • Terjadi anomali suhu atmosfer
Fenomena anomali suhu atmosfer di Jepang beberapa hari sebelum terjadi gempa bumi.
  • Bentukan awan gempa (kosmo-indikator)
Keadaan awan di langit Kobe, Jepang 8 hari sebelum gempa 17 januari 1995.
Keadaan awan di langit Bantul, DIY 3 hari sebelum gempa 27 Mei 2006
Kenampakan awan gempa ini berbeda dengan kenampakan awan biasa, bnetuknya lurus dan cenderung vertikal. Bandingkan dengan awan siklon di bawah ini :
Bentuk awan ketika badai siklon di Amerika Serikat
Adapun hubungan antara bentuk awan dengan gempa yaitu :


  • Bioindikator dari perilaku hewan
Beberapa hewan bisa merasakan anomali lingkungan beberapa waktu sebelum gempa terjadi.
Untuk bencana gempa bumi, semiologi analitik berupa rekaman data kejadian gempabumi di suatu tempat (dalam hal ini di Indonesia) dapat menjadi warning dan menambah kesiap-siagaan kita dalam menghadapi bencana. Adapun rekam data kejadian gempa di Indonesia diantaranya :


  • Statistik kejadian gempa pada bulan Masehi (Bulan Syamsiyah)
Statistik kejadian gempa pada bulan bulan penanggalan masehi.
  • Statistik kejadian gempa pada bulan Hijriyah (Bulan Komariah)
Statistik kejadian gempa pada bulan bulan penanggalan Hijriyah
  • Statistik kejadian gempa berdasarkan hari


Persentase kejadian gempa berdasarkan hari.


  • Statistik kejadian gempa berdasarkan kondisi bulan (Purnama hingga mati)
Persentase kejadian gempa berdasarkan fase bulan.
  • Statistik kejadian gempa berdasarkan penanggalan/hari Jawa
Persentase kejadian gempa berdasarkan pasaran jawa
Dengan demikian, diharapkan kita bisa mengenali semiologi bencana di sekitar kita dengan harapan kesiap-siagaan kita terhadap bencana semakin optimal.
Sumber : Catatan Kuliah Mitigasi Bencana.